Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2015

Mengenal Tokoh Fenomenal di Balik Shalahuddin: Nuruddin Zanki

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Ada cara yang menyenangkan untuk mengubah kepribadian anda agar menjadi selevel para ksatria islam yang terpisah zaman dan waktu; bacalah sejarah” (Felix Siauw, dalam bukunya Muhammad Al-Fatih 1453)
Sejarah Islam begitu harum aroma kepahlawanannya. Ia seperti jembatan antara peradaban yang unggul, generasi yang sholeh dan keberkahan langit yang tumpah ruah. Sudah berderat nama mencatatkan kebijaksanaan dan kebajikan untuk menciptakan dunia yang lebih baik, lewat sumbangan ilmunya, atau pengorbanannya, juga kepiawaiannya menata kesempatan menjadi momentum tepat yang akan dikenang sejarah.
Kita mengenal Shalahuddin, lebih tepatnya Sultan Shalahuddin Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi (1137-1193 M), seorang ksatria, ulama, pemimpin, presiden, dan dermawan sekaligus yang dikenal baik di dunia Islam maupun di dunia Barat. Jika kita memanggilnya Shalahuddin, orang Eropa mengenangnya dengan “Saladin”, ditambah gelar singkat setelahnya “The Wise”. ‘Shalahuddin yang Bijaksana’ begitulah musuhnya menggelari beliau.
Pertemuan antara Shalahuddin Al-Ayyubi dan Richard The lion Heart selama 3 tahun (585-588 H) dalam peristiwa penyerangan Pasukan Salib Inggris atas kota laut Akka telah menggambarkan bagaimana Shalahuddin sejatinya, mewakili pemimpin dunia islam yang begitu bersahaja dan bijaksana.  Shalahuddin begitu sabar, selama 36 bulan bertahan, berjaga di garis pantai Kota Akka, sehingga membuat Pasukan Salib bergeleng kepala, begitu gigihnya ia menjaga wakaf umat Islam bernama Palestina.
Juga, ketika Richard The Lionheart jatuh sakit, Shalahuddin sendiri datang ke markasnya, membawa tabib dan mengurus perawatannya. Itulah mengapa begitu pulang dari ekspedisi Salib, ratusan ribu pasukan Eropa mulai meniru gaya hidup muslim; kesantunan, kepiawaian menata kebersihan diri, dan keuletan mencipta penemuan. Semua  itu begitu nyata dan alami, tidak dipaksakan apalagi dibuat-buat (Prof. Poeradisastra)
Lewat tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak diri saya sendiri dan kawan-kawan untuk mengenal lebih dekat pada seorang tokoh besar. Shalahuddin kah? Kali ini tidak, justru kita akan berlayar dan mejelajah ke abad 10 Masehi untuk berkenalan dengan pelopor kebangkitan umat islam di abad itu. Kalau kita melihat Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai inspirasi, maka tokoh ini adalah inspirasi bagi Shalahuddin.
Jika boleh menyederhanakan kisah, saya akan memulai kisah hidup tokoh ini dari sebuah nama; Nizam Al-Mulk, seorang menteri besar di zaman Dinasti Abbasiyah pada awal abad 5 Hijriah yang gencar melakukan pendidikan dan kaderisasi generasi muda Islam kala itu. Beliau berhasil mengkader seorang pemuda bernama Aq Sankar, menjadi prajurit shalih berwawasan luas. Aq Sankar mempunyai anak bernama Imaduddin Zanki, yang mewarisi semangat jihad ayahnya. Imaduddin Zanki kala itu dikenal dunia Islam sebagai orang yang menggemuruhkan lagi semangat jihad setelah lama tidak terdengar.
Kebesaran namanya makin jelas ketika Imaduddin berhasil menaklukkan kota Raha (Edessa) setelah 28 hari pengepungan, yang saat itu dikuasai pasukan Salib dari 22 negara Eropa. Betapa saat itu kabar kemenangan begitu langka, karena sebelum penaklukkan kota Raha, yang terdengar di dunia Islam hanya kabar kekalahan demi kekalahan telak melawan Tentara Salib. Namun, Imaduddin Zanki menepisnya, memunculkan harapan!
Seorang Imaduddin menjadi menteri pertahanan, lalu menyatukan kota-kota lain, membebaskannya dari cengkraman Salibis. Panjang perjalanan hidupnya telah menyalakan kembali api jihad yang saat itu seperti nyanyian sebelum tidur. Imaduddin Zanki menemui syahidnya ketika beliau ingin membebaskan benteng Ja’bar dari Pasukan Salib yang terletak di semenanjung sungai Eufrat. Ibnu Katsir mendokumentasikan sifat beliau seperti ini, “Sebaik-baik raja, memiliki citra yang paling baik, orang yang pemberani, cerdas dan tegas.”
Tapi ruh jihadnya tak mati, bahkan makin berkobar-kobar menyala pada diri seseorang. Siapa dia? Perkenalkanlah anak kandung Imaduddin Zanki; Nuruddin Mahmud Zanki, pelopor reformasi jihad sebenarnya!
***
“Saya terkagum-kagum dengan pengaruh yang saya lihat dan berita-berita yang saya dengar tentang Nuruddin”, kata Syihabuddin Abdurrahman bin Ismail Al-Maqdisi seorang Ahli Sejarah besar, “Padahal dia hidup pada kurun-kurun terakhir. Kemudian saya bandingkan dengan raja yang agung pada generasi setelah itu, raja yang selalu mendapat kemenangan, Shalahuddin. Hemat saya, kedua raja itu sebanding dengan Umar bin Al-Khattab dan Umar bin Abdul Aziz pada generasi terdahulu.”
Ditambah lagi perkataan dari DR. Muhammad Al-Abdah dalam bukunya Aya’idut Tarikh Nafsahu; Dirasat ‘an Alamil Islam qabla Shalahuddin, “Yang paling utama tentu saja Nuruddin, Dialah asal segala kebajikan. Dengan keadilan, jihad, dan wibawanya di saentero wilayah kekuasaannya, dia telah mempersiapkan semua itu.”
Nuruddin Mahmud adalah seorang Sultan berkebangsaan Turki yang lahir di Iraq, 511 H. Ia dididik oleh ayahnya, Imaduddin Zanki menjadi seorang lelaki yang berwaasan keagamaan luas, memiliki kecakapan dalam memimpin, dan keuletan dalam berkarya. Ia tumbuh dalam kezuhudan, tidak makan dan minum kecuali dari kepunyaannya sendiri, tanpa menyentuh satu koinpun kas Negara.
“Pada suatu hari”, terang seorang Petinggi Negara yang selalu menemani Sultan Nuruddin Mahmud,”saya berjalan bersamanya di kota Raha, di bawah terik matahari. Setiap kali kami melangkah, bayang-bayang kami berjalan mendahului. Ketika kami kembali, bayang-bayang kami berjalan mengikuti kami dari belakang”
“Apakah anda tahu mengapa saya memukul kuda agar berjalan dan saya menengok ke belakang?”, Tanya Sultan Nuruddin. “Tidak”, jawab sang Perwira tinggi. “Ketahuilah, riwayat kita dengan dunia ibarat kita dengan bayang-bayang kita. Ia lari ketika dikejar orang yang mencarinya, namun dia lari mengejar orang yang meninggalkannya.”
Wajar saja ketika banyak ulama menggelari beliau sebagai generator jihad di era itu. Semangatnya terbilang asing di telinga pemimpin-pemimpin dunia islam kala itu, membuat umat Islam memasang mata dan mencurahkan perhatiannya pada kinerja beliau yang berbasis konsep jihadi yang mengagumkan. Asing, namun memikat, dan menorehkan kemenangan-kemenangan harum.
Nuruddin Zanki, ketika beliau memasuki kota Mosul di Iraq, ia membumikan aturan Islam yang begitu bijaksana di dinas kepolisian. Padahal sebelumnya –sama dengan zaman ini- saat itu dinas kepolisian identik dengan nepotisme dan menguntungkan pihak penguasa. Justru dengan kekuasaan, Sultan Nuruddin membumikan kebenaran, sehingga tersemailah kedamaian, bermuncullah senyuman rakyat yang kian lama semakin mendukung perjuangan beliau.
Apa hubungan beliau dengan Shalahuddin Al-Ayyubi?
Dekat! Semenjak Nuruddin Zanki menaiki tahta kuasa dan menyemaikan kebenaran dengan kekuasaannya, ia menjadi inspirasi bagi generasi muda islam di eranya. Termasuk ia, seorang pemuda yang kelak akan meneruskan jejak mimpi Nuruddin Zanki membebaskan Yerusalem. Siapa lagi kalau bukan Shalahuddin Al-Ayyubi.
Sejarah menorehkan kisahnya, dan alur cerita benar-benar padu menerangkan. Awal kedekatan ideologis antara Nuruddin Zanki dan Shalahuddin adalah ketika Sang Sultan mengutus Paman Shalahuddin, Asaduddin Syirkuh, untuk memimpin sepasukan besar tentara guna menyelamatkan Mesir dari kesewenang-wenangan Pasukan Salib dan hagemoni Syiah yang sesat.
Shalahuddin saat itu masih berusia relatif muda, dan ia baru mengikuti pamannya, Asaduddin Syirkuh, dalam ekspedisi ke Mesir untuk yang ketiga kalinya. Ekspedisi pertama berhasil dilancarkan Asaduddin dan menyelamatkan Mesir, namun Menteri Kerajaan Fathimiyah Mesir, Syaur As-Sa’di berkhianat. Dalam ekspedisi kedua, tentara Asaduddin merasakan kepiluan yang sangat, karena di Barat Kairo laju pasukan muslim berhasil dipatahkan pasukan Salib atas perintaan Menteri Kerajaan Syiah Fathimiyah mesir, Syaur As-Sa’di.
Pada ekspedisi ketiga inilah kemenangan dapat diraih. Pasukan Nuruddin Zanki yang dipimpin Asaduddin disertai dengan Shalahuddin berhasil menguasai pemerintahan Mesir. Akhirnya Asaduddin menjabat sebagai menteri para pemerintahan fathimiyah. Secara de facto, walaupun Mesir masih dikuasai Kerajaan Fathimiyah, namun pada hakikatnya penguasa sebenarnya adalah Asaduddin dan Shalahuddin.
Asaduddin tidak lama memerintah Mesir. Allah memanggil beliau setelah 2 bulan memerintah negeri tersebut. Kesempatan memimpin Mesir hadir di hadapan Shalahuddin, dan ia pun dengan brilian mengambilnya, lalu mengkondisikan Mesir –sesuai permintaan Nuruddin Zanki- menjadi Negeri yang bebas dari aqidah Syiah, dan kembali bergabung bersama negeri-negeri muslim yang beraqidah ahlussunnah.
Legenda Mimbar Nuruddin
Nuruddin Zanki, dengan segala keinginannya untuk membebaskan setiap jengkal negeri Islam dari jajahan musuh-musuhnya, telah membuat rakyatnya bergemuruh dalam semangat kebangkitan yang berdengung-dengung di setiap rumah. Seorang Ibu mengisahkan kepribadian Sultan pada anak-anaknya, para Ulama menggegarkan semangat membuka Yerusalem di setiap majelis-majelis pengajian, Para Ayah bekerja menyebar di muka bumi guna mempersiapkan jihad harta dan jiwa mereka hingga kemudian siap menyambut panggilan Sultan ke medan perang.
Guna mengkristalkan mimpinya, Sultan Nuruddin Zanki membuat sebuah mimbar indah yang fenomenal, dengan kayu terbaik dan ukiran kaligrafi terindah. Ia buat itu sebagai wujud dari tekad besar untuk membebaskan Masjid Al-Aqsha dari cengkraman Pasukan Salib. Mimbar itu ia buat, lalu ia bentangkan di tempat umum, sebagai simbol tekadnya yang terkristalkan, juga sebagai seruan untuk rakyatnya dalam berbangkit. Mimbar yang dipamerkan di muka umum ini seakan mengajak pada semua pasang mata yang melihatnya “Bawa aku! Bawa Aku ketika Al-Aqsha bebas! Kaulah yang akan jadi pembebasnya! Kaulah yang akan jadi pembebasnya!”
Namun sebelum Mimbar itu diantar dalam gilang gemilang kebebasan Yerusalem, Nuruddin Zanki wafat. Beliau, sang Sultan pelopor jihad itu telah meninggalkan jejak emas yang sebentar lagi berbuah kemenangan yang amat nyata. Semangatnya, jihadnya, spirit juangnya, dan kecemerlangan pemikirannya, terlebih mimbar yang ia buat sebagai simbol perjuangan telah berhasil memikar ummat islam sepenjuru arab untuk memikul tanggung jawab besar memenangkan mahkota Yerusalam, di mana Al-Aqsha berada di jantungnya.
Nuruddin Zanki, beliau wafat pada usia 59 tahun di tahun 1174 Masehi, selang 13 tahun setelah itu, tekadnya terbentang menjadi nyata dengan perantara penerusnya, Shalahuddin Al-Ayyubi, tepatnya dalam kemenangan 12.000 pasukan muslim pimpinan Shalahuddin dalam pertempuran Hattin tahun 1187 Masehi melawan 60.000 pasukan Salib pimpinan Guy de Lusignan.
13 tahun perlu menunggu, hingga mimbar yang mewakili tekad Nuruddin Zanki diantarkan dengan bersahaja menuju mimbar Al-Aqsha yang begitu berwibawa. Perkenalkanlah…. Namanya; Nuruddin Zanki!


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/02/05/63582/mengenal-tokoh-fenomenal-di-balik-shalahuddin-nuruddin-zanki/#ixzz3SpjpQAum 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Inspiring Muadz bin Jabal: Dai Muda yang Kaya Raya dan Lembut Hati



dakwatuna.com – Muadz bin Jabal seorang pemuda Anshar teladan, termasuk golongan Anshar yang pertama masuk Islam dan turut serta dalam baiatul Aqabah dua. Kepandaian dan kepahamannya dalam ilmu agama diakui oleh banyak sahabat, tak terkecuali sang pemimpin Rasulullah SAW yang memberikan testimoni menyejarah : “sepandai-pandainya umatku dalam masalah halal dan haram adalah Muadz bin Jabal”,  bahkan di riwayat yang lain disebutkan Muadz adalah pemimpin para ulama di akhirat nanti.
Karena kefaqihannya inilah Muadz pun dipercaya menjadi duta dakwah di Yaman. Sebuah amanah dan tugas berat menanti di sana, menyebarkan Islam dengan benar sesuai ajaran Rasulullah SAW. Tak heran jika di awal keberangkatan Muadz ke Yaman, serangkaian fit and proper test pun dijalankan oleh Rasulullah SAW. Maka ketika Muadz sukses menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan begitu cerdas dan elegan, wajah Rasulullah SAW pun berseri-seri dan bertutur lugas : “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sebagai yang diridhai oleh Rasulullah . . . .”
Di Yaman selain berdakwah menyebarkan dan mengajarkan Islam, Muadz bin Jabal juga berdagang sebagaimana para sahabat lainnya. Karena kepandaian dan ketekunannya pulalah, maka ia berhasil meningkatkan omset dagangnya dan berubah menjadi pribadi yang kaya raya, santun dan faqih. Ketika Rasulullah SAW wafat, Mu’adz masih berada di Yaman. Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Madinah, dan di awal kedatangannya terjadi sebuah kisah indah penuh ukhuwah antara Muadz, Abu Bakar dan Umar bin Khaththab.
Saat Muadz datang dari Yaman, Umar tahu bahwa Mu’adz telah menjadi seorang yang kaya raya. Kekayaan pribadinya meningkat tajam dari beberapa tahun sebelumnya. Seperti biasa, ketegasan dan kewaspadaan ala Umar bin Khaththab berjalan, beliau sebagai penasehat khalifah segera mengusulkan kepada Abu Bakar agar membagi dua kekayaan Muadz dan menyerahkannya kepada negara, sebagai bentuk kehati-hatian sebagai pengelola negara. Abu Bakar tidak segera menyetujui usulan dari Umar, namun tanpa menunggu persetujuan Abu Bakar, secara pribadi Umar bersegera mendatangi Muadz untuk datang sebagai sahabat.
Mu’adz bin Jabal sebagaimana kita ketahui dalam testimoni Rasulullah SAW, adalah orang yang paham tentang halal dan haram. Termasuk halal dan haram dalam transaksi dan perdagangan. Ia tidak mengenal bertransaksi dengan unsur maysir (spekulasi), ghoror (tipuan), gheis (curang) apalagi ikhtikar (menimbun barang) dan riba. Kekayaan yang didapat pun tak lebih dari buah ketekunan dan kecerdasan, yang mendapatkan taufiq dari ar-rozzaq Allah SWT, jauh dari segala syubhat apalagi yang haram.
Maka ketika Umar datang ke rumahnya dan mengemukakan usulannya untuk membagi dua harta tersebut, Muadz pun menolak dengan argumen yang cerdas dan hujjah yang kuat.  Diskusi hangat dua sahabat mulia itu pun berakhir dan Umar berpamitan meninggalkannya. Sungguh ia tidak hasad dan iri dengan kekayaan Muadz, tidak pula ia menuduh Muadz bermaksiat dengan mencari jalan haram dalam menumpuk kekayaan, namun ia hanya takut karena saat itu Islam sedang mengalami kejayaan dan kegemilangan, di luar sana banyak tokoh-tokoh yang memanfaatkan hal tersebut dengan bergelimang harta tanpa kejelasan sumber halalnya. Inilah yang ditakuti Umar, tidak lebih.
Namun uniknya, pagi-pagi sekali keesokan harinya Mu’adz bin Jabal terlihat segera bertandang ke rumah Umar. Apa yang dilakukan Muadz setelah apa yang terjadi pada hari sebelumnya? Sungguh pemandangan ukhuwah yang indah tak tergambarkan.  Sampai di sana, Muadz segera merangkul Umar dan memeluknya kuat, bahkan air mata Muadz pun mengalir dan terisak menceritakan mimpinya tadi malam yang begitu kuat mengingatkannya.
“Wahai Umar, malam tadi saya bermimpi masuk kolam yang penuh dengan air, hingga saya cemas akan tenggelam. Untunglah Anda datang, dan menyelamatkan saya . . . . !”
Nampaknya mimpi tersebut membuat Muadz ingin segera menuruti usulan Umar bin Khaththab untuk membagi dua harta kekayaannya yang diperoleh dari Yaman.  Maka keduanya pun segera menghadap Abu Bakar, dan Mu’adz pun mengutarakan niatnya, meminta kepada khalifah untuk mengambil seperdua hartanya.
Namun apa jawab khalifah Abu Bakar yang mulia? Khalifah yang timbangan imannya tak tertandingi oleh penghuni bumi ini menolak dengan tegas, ia mengatakan : “Tidak satupun yang akan saya ambil darimu”.  Abu Bakar tahu dan yakin bahwa Muadz memperoleh kekayaan dari jalan yang baik, maka ia tidak ingin mengambil satu dirham pun dari harta sahabatnya tersebut, yang itu berarti kezhaliman dan akan berbuah kehinaan di akhirat.
Muadz belum puas dengan jawaban sang khalifah, ia pun menoleh dan meminta pendapat Umar bin Khaththab, ia teringat dengan mimpinya semalam yang begitu mendebarkan. Apa komentar Umar sebagai pihak yang mengawali usulan pembagian harta tersebut, ia berujar singkat : “ Cukup .. sekarang harta itu telah halal dan jadi harta yang baik”.  Subhanallah, kegelisahan pun berakhir dengan kehangatan ukhuwah dan kemuliaan iman.
Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian dan masalah, mari kita ambil inspirasi dan semangat dari kisah di atas yang melibatkan tiga sahabat yang mulia :
Pertama : Sosok Muadz yang cerdas dan santun. Dengan kesungguhannya ia bisa memperoleh kekayaan yang luar biasa di usia muda ( beliau meninggal usia 33 tahun di masa Umar), dari jalan yang halal dan jauh dari syubhat. Meski demikian, beliau seorang yang lembut hatinya dan perasa, sebuah mimpi di malam hari mampu membuatnya berubah dari sikap teguh pendiriannya atas usulan Umar.
Kedua : Abu Bakar memberikan contoh pada kita tentang kebijaksanaan dan kecermatan dalam berfikir. Tidak tergesa bersikap meski terlihat penuh kemaslahatan. Beliau juga tegas menolak segala tawaran dan kebijakan yang bernuansa kezhaliman.
Ketiga : Umar adalah teladan dalam sikap waro, kehati-hatian dan mawas diri, sekaligus ketegasan yang luar biasa. Dialah sosok yang terlihat angkuh di hadapan kekayaan sebagian sahabat. Para panglima perang yang bertaburkan kemenangan dan pakaian nan indah pun dihinakan oleh Umar dengan lemparan kerikil di wajah mereka. Dia adalah negarawan yang cerdas dan teliti melihat kepiawaian para aparat di bawahnya.
Tidak ada lagi kalimat yang tersisa kecuali mari segera berusaha mencontohnya.
Semoga bermanfaat dan salam optimis.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/09/19/14809/inspiring-muadz-bin-jabal-dai-muda-yang-kaya-raya-dan-lembut-hati/#ixzz3SpiPPfAb 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

“Dia” yang Manis Itu Ternyata Bernama Ukhuwah

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mari membuka kembali beberapa lembaran sahabat Nabi SAW berikut ini,
Cerita tentang 3 sahabat Nabi SAW pada perang Yarmuk, saat itu Ikrimah bin Abu Jahal meminta air minum, lalu ia melihat Suhail bin Amr memandangnya, lantas Ikrimah berkata “berikan air itu kepadanya”. Kemudian ketika Suhail juga melihat sahabat yang lain yaitu al-Harits bin Hisyam, Suhail juga melakukan hal sama dengan yang dilakukan Ikrimah. Tetapi belum sampai air minum itu pada al-Harits ketiga sahabat itu telah meninggal tanpa meminumnya sedikitpun.
Cerita tentang sahabat yang kedatangan seorang tamu tetapi ia dan keluarganya hanya mempunyai persediaan makanan yang untuk anak-anaknya saja tidak cukup (ada tapi sedikit sekali). Kemudian sahabat itu meminta istrinya untuk mengajak bermain anak-anaknya, jika anak-anaknya ingin makan malam ajaklah mereka untuk tidur. Dan pada saat tamu tersebut masuk ke ruang makan, dipadamkannya lampu rumahnya. Dan mereka menunjukkan seolah-olah sedang makan bersamanya (yang makan hanya tamunya saja). Dan otomatis, malam itupun mereka lalui dengan menahan lapar. Ketika tamunya sudah selesai berkunjung, keduanya menuju Nabi SAW, kemudian Rasulullah memberitakan kabar gembira berupa pujian dari Allah dengan turunnya ayat 9 surat Al-Hasyr.
Ada juga sahabat Nabi SAW yang ketika itu mendapatkan hadiah berupa kepala kambing, kemudian ia berkata sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kita”. Kemudian ia mengirimkan hadiah itu kepada fulan, dan ternyata fulan juga melakukan hal yang sama. Dan itu dilakukan terus menerus dari satu sahabat ke sahabat yang lain sampai berpindah tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada sahabat pertama kali yang memberikan”.
Kisah-kisah pada di atas memberikan pelajaran pada kita bagaimana sahabat mencintai saudaranya. Lantas timbul sebuah pertanyaan, apa yang membuat mereka berbuat demikian? Barangkali narasi singkat berikut dapat menjawabnya…
Pada saat kita sedang bersama-sama saudara seperjuangan menjalankan suatu agenda dakwah, menjalankan suatu kegiatan seminar, pelatihan, bakti sosial misalnya, maka kita akan melihat dan merasakan berbagai sosok yang spesial, mereka menampakkan guratan wajah yang berbeda-beda namun memiliki kesamaan yakni  menampakkan perjuangan, guratan wajah mereka menampakkan kegigihan, kegigihan yang timbul dari dalam jiwanya, jiwa yang senantiasa menyala, menyala untuk menerangi kita untuk menyusuri jalan terjal, berliku, dan sangat panjang.
Pada momen seperti ini, pasti ikhwah fillah pernah merasakan lelah, terutama fisik (karena kebanyakan syura pagi-pagi jadi jarang olahraga–semoga saja tidak, hhe), lelah pikiran sekaligus lelah batin, iya pernah merasakan kan? hhe. Ketahuilah sahabat, lelah yang kita rasakan itu adalah pertanda, pertanda bahwa kita sedang berusaha mati-matian, bahwa kita sedang berusaha mengeluarkan daya dan upaya secara maksimal.
Sesungguhnya rasa lelah itu bukanlah rasa lelah sembarangan, lelah itu lelah anugerah, lelah itu lelah yang manis rasanya, lelah itu membuat kita semakin bahagia, karena terlahir dari rasa kecintaan terhadap Allah, demi meraih ridha dan surganya, maka lelah seperti ini dapat mengakibatkan tangis, tangis yang sungguh nikmat, tangis karena tak kuasa menahan karunia yang memenuhi lubuk hati. Atau pada saat mabit bareng, saat tilawah bersama-sama, mendengarkan materi bersama-sama, qiyamullail berjamaah, sahabat pasti pernah merasakan kenikmatan berkumpul bersama, kenikmatan itu berupa rasa manis yang timbul di dalam hati sehingga rasa itu memenuhi relung-relung hati kian dalam kian manis yang tanpa sadar membuat kita untuk tersenyum-senyum sendiri.
Begitulah pasti para sahabat Nabi SAW merasakan hal yang sama. Rasa-rasa semacam ini juga kita temui ketika dalam agenda yang lain seperti pada perjalanan bersama-sama, bermajelis bersama-sama, berolahraga bersama, dsb. Lalu siapakah penyebab ini semua? Dia yang manis itu ternyata bernama Ukhuwah, dialah yang membuat kita merasakan manisnya dalam hati, dialah yang membuat lelah itu menjadi bukan lelah yang sembarangan, dan dialah pula yang membuat tanpa sadar kita tersenyum-senyum sendiri bahagia.
Allahurabbi, malu rasanya atas keprasangkaan kita terhadap saudara, kelambatan kita atau bahkan ketiada pedulian kita ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan, sikap yang memikirkan diri sendiri, semoga ukhuwah ini tetap terjalin sampai bertemu di jannahNya kelak, hingga rasa manis itu menjadi anugerah yang sangat indah. Keindahan yang tiada tara yang tidak akan mampu kita bayangkan…


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/04/15/31338/dia-yang-manis-itu-ternyata-bernama-ukhuwah/#ixzz3Spf7hgx9 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Mission Impossible Para Nabi

Surat Yasin

dakwatuna.com – Jika kita diminta berdakwah ke tengah masyarakat yang memiliki karakter buruk, angkuh,“songong”, “ndablek” hatinya sudah tertutup dengan kesombongan dan kemusyrikan yang sudah berkarat. Apa yang kita lakukan? Sanggupkah kita menerima amanah dakwah itu? Atau mungkin seribu alasan kita kumpulkan agar tugas itu tidak jatuh ke pundak kita.
Inilah mission impossible, situasi buruk yang dihadapi para nabi
Tengoklah kisah Nabi Musa yang diminta mendatangi Firaun yang punya tentara paling kuat di zamannya, punya kekuasaan tak terbatas sampai mengaku sebagai Tuhan. Sementara Musa punya beban psikologis yang berat karena dibesarkan oleh Firaun di istananya yang megah. Berapa persentase kemungkinan Firaun menerima dakwah nabi Musa? Mungkin 0,0001%, apa Musa menolak?
“Ya Tuhan… jangan saya deh yang datangi Firaun, saya kan banyak utang budi, saya dibesarkan oleh kebaikan Asiah istri Firaun!!”
Namun ternyata bukan penolakan yang dilakukan Musa, tapi ketaatan dan ketegaran menjalani semua tugas tersebut.
Begitu pula dengan Nabi Nuh. 950 tahun berdakwah hanya memiliki sedikit pengikut. Namun Nuh tetap menjalani misinya dengan segala keteguhan. Apakah Allah complain kepada Nuh yang tidak berhasil membawa banyak pengikut? Ternyata tidak. Allah tidak pernah melihat hasil, tetapi Allah melihat proses dan perbuatan amal manusia.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan. (At-Taubah:105)
Mari kita buka sirah Rasulullah Muhammad saw. Mission impossible yang harus Beliau lakukan sangat berat. Terlahir sebagai yatim dari keluarga miskin, tidak punya harta dan kedudukan, apalagi pengikut. Namun Allah mengangkatnya menjadi seorang Nabi dengan tugas yang mission impossible. Mengapa dianggap impossible? Karena tanpa bekal apa-apa Muhammad harus berdakwah di tengah kaum yang hidupnya keras, biasa berperang, angkuh, sombong, buta dan tuli hatinya. Karakter masyarakat Makkah ketika itu digambarkan lehernya mendongak, tidak pernah menunduk. Artinya keangkuhan dan kesombongan sudah mengakar kuat mendarah daging, mereka kaum yang sulit menerima nasihat, bahasa lainnya susah didakwahi. Gambaran jelas tentang mereka dalam surat Yasin ayat 8-10.
إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ  وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ  وَسَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Sesungguhnya kami Telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, Maka Karena itu mereka tertengadah. Dan kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat. Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Yasin:8-10)
Mengapa Allah sudah bilang karakter orangnya susah didakwahi tapi Allah tetap menyuruh Rasul berdakwah, Kenapa pula Rasulullah mau melakukannya?
Setidaknya ada 3 alasan mengapa para Nabi dan Rasul tetap setia dengan misi dakwahnya, merubah yang impossible menjadi possible yaitu:
1. Yakin
Keyakinan yang kuat karena dakwah ini perintah Allah, pasti Allah tidak akan meninggalkannya sendirian. Tidak mungkin Allah memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan. Yakin pasti bisa dilakukan. Berapa persen tingkat keberhasilannya? Itu bukan urusan Nabi, karena Nabi hanya melakukan apa yang diperintahkan Allah. Soal hasil terserah Allah.
Seorang diri Rasulullah berdakwah tanpa bosan dan putus asa. Rasulullah derect selling sendirian, bahasa Islamnya silaturahim kepada siapa saja, yang dikenal maupun orang asing.
“Sudilah kiranya Anda duduk sebentar mendengarkan saya, jika ucapan saya Anda sukai silahkan bergabung jika tidak suka Anda boleh pergi.”
Dakwah Rasulullah mendapat celaan, hinaan, ancaman, siksaan, pemboikotan dan pembunuhan pengikutnya dari golongan budak yang lemah. Sampai Allah gambarkan
Dalam surat Al-An’am ayat 33, betapa sedih dan sempit dada Rasulullah mendengar ejekan dan komentar mereka dalam menyikapi dakwah Rasulullah.
Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (Al-An’am:33)
Dalam ayat Ini Allah menghibur nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan nabi, pada hakikatnya adalah mendustakan Allah sendiri, Karena nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.
Dengan keyakinan dan kesabaran perlahan-lahan dakwah ini bersemi. Jika dihitung berapa banyak penduduk Makkah yang mati kafir dan yang beriman? Tentu lebih banyak yang beriman. Pada perang Badar yang mati 70 orang, perang Uhud belasan orang. Bandingkan yang beriman pada Fathu Makkah yaitu 2000 orang. Nabi membuktikan impossible menjadi possible.
2. Allah Maha Teliti mencatat amal manusia
Allah sangat menghargai proses, yang penting beramal dengan cara yang benar. Allah tidak pernah menuntut hasil. Ketika seluruh energy telah dikerahkan, segala daya upaya telah dipersembahkan, maka Allah akan tunjukkan jalan setapak demi setapak. Seperti dalam surat al-Ankabut ayat terakhir:
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Al-Ankabut:69)
Selama 10 tahun Rasulullah direct selling di Makkah, tiap musim haji Rasulullah mendatangi tenda-tenda kabilah yang datang untuk thawaf di Ka’bah, baru pada tahun ke 11 kenabian Allah bukakan hati penduduk Yatsrib 6 orang suku Aus dan Khadraj untuk masuk Islam. Ya… dari 6 orang ini Islam bersemi di Madinah selanjutnya Rasulullah mengutus Mush’ab bin Umair untuk berdakwah di Madinah meluaskan ekspansi dakwah menyiapkan lading subur kedatangan para sahabat yang mendapat siksaan untuk berhijrah, puncaknya Rasulullah pun berhijrah pada tahun ke 13.
Merekalah yang diberi gelar kaum Anshar yang siap menampung kaum Muhajirin. Seluruh proses dakwah yang Rasulullah lakukan bersama sahabat mendapat ganjaran dari Allah. Bahkan seluruh amal perbuatan manusia dicatat yang baik ataupun yang buruk. Catatan amal inilah yang akan Allah perlihatkan kelak di hari kiamat.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ  إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ  مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Dan sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Qaf:16-18)
Meskipun nabi sudah dijamin masuk surga, namun tetap semangat mengumpulkan amal, semangat berdakwah. Kalau bapaknya tetap kafir, Rasulullah berharap anak cucunya akan masuk Islam. Al-Walid bin Mughirah kafir sampai matinya, namun tiga dari empat anaknya masuk Islam salah satu yang terkenal adalah si pedang Allah Khalid bin Walid.
Mari kita buat catatan indah untuk diri kita, hingga ketika dibangkitkan di hari kiamat catatan itu menjadi saksi amal shalih kita.
3. Contoh yang menginspirasi nabi berdakwah
Contoh ini Allah gambarkan dalam surat Yasin ayat 13 -27.
Allah gambarkan perumpamaan suatu negeri yang selalu menolak utusan Rasul dari Allah sampai Rasul yang ke tiga juga ditolak. Datanglah seorang laki-laki dari kaumnya berkata: “hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu.” Namun kaumnya malah membunuh laki-laki itu. Dan Laki-laki itu masuk surga.
Ya itulah mission impossible yang dilakukan Rasulullah. Manusia tidak ada yang sempurna, justru ketidaksempurnaan inilah menyebabkan manusia butuh untuk saling menasihati dan saling memberi peringatan.
Jangan berpikir harus banyak ilmu dulu baru berdakwah, banyak amal shalih dulu baru berdakwah. Selalu merasa diri tak layak jadi dai, tak layak jadi murabbi karena masih banyak dosa, masih kurang ilmu. Mari kembali buka sirah bandingkan kondisi kita hari ini dengan kondisi Rasulullah.
  1. Nabi terlahir sebagai yatim, masih kecil ibunya wafat, dirawat kakeknya, kakeknya pun wafat, dirawat pamannya yang miskin dan punya anak banyak. Bandingkan dengan diri kita apakah kita yatim piatu ? miskin? Gak punya pekerjaan? Mana lebih buruk kondisi kita dengan kondisi Rasulullah?
  2. Nabi hidup di tengah kaum yang angkuh, keras, sulit didakwahi. Kita hidup di tengah masyarakat yang santun, ramah, murah senyum, suka menolong.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/05/03/32580/mission-impossible-para-nabi/#ixzz3SpdHJscv 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Senin, 23 Februari 2015

10 kesalahpahaman tentang islam

1. Islamic Terrorism
Misconception: Islam adalah teroris
Ini jauh kesalahpahaman Islam terbesar, tidak adil yang diberikan oleh masyarakat dan stereotyping gambar yang memberikan media. Has anyone else noticed cara tertentu ketika sekelompok orang menyerang orang lain kelompok ini diberi label sebagai ‘hate crime’, tetapi ketika seorang Muslim terbuka untuk siapa saja api cepat itu dianggap sebagai ‘terorisme’. Banyak dictators politik dan para pejabat atau kelompok-kelompok ekstremis menggunakan nama Islam sebagai strategi untuk mengumpulkan pengikutnya dan perhatian ketika banyak dari mereka menentang praktek-praktek yang benar dasar Islam. Media juga digambarkan Islam sebagai agama atau sebuah klub di mana anda jika anda bergabung menjadi teroris dan yang kini bagian dari agenda. Namun di seluruh dunia praktek orang Islam di formulir yang benar dan menggunakannya sebagai cara hidup. Ada banyak ayat dalam Quran yang bertentangan dengan ide terorisme. Beberapa ayat-ayat termasuk “berperang di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi tidak melampaui batas Tuhan tidak suka batas.” Ini berarti pada dasarnya tidak berperang kecuali dalam pembelaan diri dan bahkan dalam hal tersebut tidak pergi jauh pertahanan. Ayat lain menyatakan “jika mereka mencari perdamaian, maka anda mencari perdamaian,” yang berarti tidak menyerang orang tanpa alasan atau bersalah membunuh orang. Tak ada dalam Islam, apakah ada di Quran atau ajaran Muhammad, yang mendorong pembunuhan orang bersalah. Digambarkan di atas adalah sebuah konferensi yang melawan Terorisme Islam.
2. By The Sword
Kesalahpahaman: Islam telah menyebar oleh pedang
Sejarawan De Lacey O’Leary menyatakan “Sejarah membuatnya jelas bahwa legenda yang fanatik Islam melalui sweeping dan memaksa dunia Islam pada titik di pedang setelah menaklukkan ras adalah salah satu yang paling fantastically mustahil sejarahwan mitos yang pernah diulang. “Tidak ada dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa orang yang dipaksa oleh pedang untuk masuk Islam. Ketika Islam menyebar melalui negara-negara mereka akan menyiapkan pribadi gereja dan sinagog untuk non muslim mereka dan pemerintahan yang baik karena mereka telah menerima perlakuan mereka sendiri akan dikonversi. Jika satu menganggap kecil jumlah umat Islam yang pada awalnya penyebaran Islam ke barat semua jalan dari Spanyol dan Maroko dan ke timur dari India dan Cina yang akan menyadari bahwa sebuah kelompok kecil dari orang-orang yang tidak bisa memaksa orang lain untuk menjadi anggota suatu agama terhadap mereka akan. Ianya juga menarik untuk dicatat bahwa ketika Mongol menyerang dan menaklukkan besar bagian dari kerajaan Islam, bukan merusak agama mereka diadopsi it!
3. Women’s Right
Kesalahpahaman: Perempuan tidak memiliki hak
Gambar seorang perempuan yang memakai kerudung dari kepala ke jari kaki, seorang perempuan yang mendapat keadilan yang tidak adil atau seorang perempuan yang tidak diperbolehkan untuk drive yang terlalu akrab gagasan ketika datang ke perawatan perempuan dalam Islam. Dan sementara ada negara-negara Muslim di dunia yang melaksanakan banyak rulings tajam terhadap perempuan, ini tidak boleh digambarkan sebagai hukum Islam. Banyak dari negara-negara tersebut memiliki perbedaan budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Perlu dicatat bahwa selama Arab pra-Islam perempuan hanya digunakan untuk persundalan dan tidak memiliki kemerdekaan. Kelahiran anak perempuan dalam keluarga dianggap menghinakan dan praktik anak perempuan yang tak terkendalikan. Ketika Islam datang ke ini, ayat-ayat dalam Quran dikutuk praktik anak perempuan. Islam banyak memberi kembali ke hak asasi manusia perempuan dan Muhammad (s) bahkan melaporkan bahwa “perempuan adalah memperdua kembar laki-laki.” A Muslim perempuan diperbolehkan untuk menolak dan menerima pelamar untuk menikah dan mempunyai hak untuk mencari perceraian. Tidak ada apa-apa dalam Islam yang melarang seorang muslim wanita keluar dari rumahnya dan boleh berkendara. Juga dalam hal pendidikan, seorang wanita wajib untuk mencari pengetahuan dan dianggap sebagai dosa jika ia menolak.
4. Muslim Savages
Kesalahpahaman: Islam adalah kejam dan savages selama perang
Cukup Sebaliknya, bila perlu untuk melakukan perang ada aturan bahwa setiap sepuluh tentara Muslim harus mematuhi:
  • Jangan melakukan pengkhianatan
  • Tidak menyimpang dari jalan
  • Jangan memuntungkan mayat
  • Jangan membunuh anak-anak
  • Jangan membunuh perempuan
  • Jangan membunuh laki-laki berusia
  • Tidak membahayakan atau membakar pohon-pohon
  • Jangan menghancurkan bangunanJangan memusnahkan musuh dari kawanan, kecuali jika Anda menggunakannya untuk makanan
  • Bila Anda melewati orang-orang yang dikhususkan untuk kehidupan monastik layanan biarkan mereka sendirian
Selama crusades Salahuddin ketika ia dikalahkan franks yang terhormat yang dikalahkan Frankish tentara dan disertakan dengan makanan mereka dan selama tiga usaha ketika Saladin dari musuh raja Richard jatuh sakit, Saladin dikirim dia hadiah buah-buahan dan kuda.
5. Child Bride
Kesalahpahaman: Nabi Muhammad adalah pedophile
Nabi Muhammad saw menikahi gadis berusia 9 tahun tidak ada buktinya,Walaupun seandainya memang dia menikahi seorang gadis berusia sembilan tahun,itu tidak merupakan pedophilia. Secara historis, usia di mana seorang gadis dianggap siap untuk menikah telah puberty. Ini merupakan kasus di Biblika kali, dan sekarang masih digunakan untuk menentukan usia perkawinan di berbagai belahan dunia. Ini merupakan bagian dari norma dan bukan merupakan sesuatu yang invented Islam. The girl ia telah menikah untuk mencapai masa pubertas 3 tahun sebelum menikah. Hal ini setelah mencapai usia masa remaja bahwa seseorang, laki-laki atau perempuan, menjadi hukum yang bertanggung jawab untuk tindakan mereka di bawah hukum Islam. Pada tahap ini, mereka diizinkan untuk membuat keputusan mereka sendiri dan bertanggung diadakan untuk mereka. Ia juga harus menyebutkan bahwa dalam Islam, adalah haram untuk memaksa seseorang untuk menikahi seseorang yang mereka tidak ingin menikah. Tidak ada indikasi bahwa pada waktu itu dikritik perkawinan ini disebabkan oleh gadis muda usia. Sebaliknya, perkawinan itu didorong oleh gadis yang dari keluarga dan telah disambut oleh masyarakat luas.
6. Islamic Jihad
Kesalahpahaman: Jihad berarti berjuang demi Tuhan

Senin, 09 Februari 2015

Sejarah Kota Cordoba

Sejarah Islam di Prancis

Sejarah Islam di Prancis

10 Kisah cinta paling Indah dalam Islam


1. Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Cinta Ali dan Fatimah luar biasa indah, terjaga kerahasiaanya dalam sikap, ekspresi, dan kata, hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam suatu pernikahan. Konon saking rahasianya, setan saja tidak tahu menahu soal cinta di antara mereka. Subhanallah.

Ali terpesona pada Fatimah sejak lama, disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah Saw. itu. Ia pernah tertohok dua kali saat Abu Bakar dan Umar ibn Khattab melamar Fatimah sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun kesabarannya berbuah manis,lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesholehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah Saw. Akhirnya Ali memberanikan diri. Dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.

Di sisi lain, Fatimah ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali: “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”

2. Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz, khalifah termasyhur dalam Bani Umayyah, suatu kali jatuh cinta pada seorang gadis, namun istrinya, Fatimah binti Abdul Malik tak pernah mengizinkannya menikah lagi. Suatu saat dikisahkan bahwa Umar mengalami sakit akibat kelelahan dalam mengatur urusan pemerintahan. Fatimah pun datang membawa kejutan untuk menghibur suaminya. Ia menghadiahkan gadis yang telah lama dicintai Umar, begitu pun si gadis mencintai Umar. Namun Umar malah berkata: "Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Saya benar-benar tidak merubah diri saya kalau saya kembali kepada dunia perasaan semacam itu,"

Umar memenangkan cinta yang lain, karena memang ada cinta di atas cinta. Akhirnya ia menikahkan gadis itu dengan pemuda lain. Tidak ada cinta yang mati di sini. Karena sebelum meninggalkan rumah Umar, gadis itu bertanya, "Umar, dulu kamu pernah mencintaiku. Tapi kemanakah cinta itu sekarang?" Umar bergetar haru, tapi ia kemudian menjawab, "Cinta itu masih tetap ada, bahkan kini rasanya lebih dalam!"

3. Abdurrahman ibn Abu Bakar
Abdurrahman bin Abu Bakar Ash Shiddiq dan istrinya, Atika, amat saling mencintai satu sama lain sehingga Abu Bakar merasa khawatir dan pada akhirnya meminta Abdurrahman menceraikan istrinya karena takut cinta mereka berdua melalaikan dari jihad dan ibadah. Abdurrahman pun menuruti perintah ayahnya, meski cintanya pada sang istri begitu besar.

Namun tentu saja Abdurrahman tak pernah bisa melupakan istrinya. Berhari-hari ia larut dalam duka meski ia telah berusaha sebaik mungkin untuk tegar. Perasaan Abdurrahman itu pun melahirkan syair cinta indah sepanjang masa:

Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari tak terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama, dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu dan halus tutur katanya

Akhirnya hati sang ayah pun luluh. Mereka diizinkan untuk rujuk kembali. Abdurrahman pun membuktikan bahwa cintanya suci dan takkan mengorbankan ibadah dan jihadnya di jalan Allah. Terbukti ia syahid tak berapa lama kemudian.

4. Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid

Teladan dalam kisah cinta terbaik tentunya datang dari insan terbaik sepanjang masa: Rasulullah Saw. Cintanya kepada Khadijah tetap abadi walaupun Khadijah telah meninggal. Alkisah ternyata Rasulullah telah memendam cintanya pada Khadijah sebelum mereka menikah. Saat sahabat Khadijah, Nafisah binti Muniyah, menanyakan kesedian Nabi Saw. untuk menikahi Khadijah, maka Beliau menjawab: “Bagaimana caranya?” Ya, seolah-olah Beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita shahabiyah yang menemui Rasulullah Saw. Wanita ini bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar."

Sambil menangis Rasulullah Saw menjawab, "Masih adakah orang lain setelah Khadijah?"

Kalau saja Allah tidak memerintahkan Muhammad Saw untuk menikah, maka pastilah Beliau tidak akan menikah untuk selama-lamanya. Nabi Muhammad Saw menikah dengan Khadijah layaknya para lelaki. Sedangkan pernikahan-pernikahan setelah itu hanya karena tuntutan risalah Nabi Saw, Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun setelah 14 tahun Khadijah meninggal.

Masih banyak lagi bukti-bukti cinta dahsyat nan luar biasa islami Rasulullah Saw. kepada Khadijah. Subhanallah.

5. Rasulullah Saw. dan Aisyah

Jika Rasulullah SAW ditanya siapa istri yang paling dicintainya, Rasul menjawab, ”Aisyah”. Tapi ketika ditanya tentang cintanya pada Khadijah, beliau menjawab, “cinta itu Allah karuniakan kepadaku”. Cinta Rasulullah pada keduanya berbeda, tapi keduanya lahir dari satu yang sama: pesona kematangan.

Pesona Khadijah adalah pesona kematangan jiwa. Pesona ini melahirkan cinta sejati yang Allah kirimkan kepada jiwa Nabi Saw. Cinta ini pula yang masih menyertai nama Khadijah tatkala nama tersebut disebut-sebut setelah Khadijah tiada, sehingga Aisyah cemburu padanya.

Sedangkan Aisyah adalah gabungan dari pesona kecantikan, kecerdasan, dan kematangan dini. Ummu Salamah berkata, “Rasul tidak dapat menahan diri jika bertemu dengan Aisyah.”

Banyak kisah-kisah romantis yang menghiasi kehidupan Nabi Muhammad dan istrinya, Aisyah. Rasul pernah berlomba lari dengan Aisyah. Rasul pernah bermanja diri kepada Aisyah. Rasul memanggil Aisyah dengan panggilan kesayangan ‘Humaira’. Rasul pernah disisirkan rambutnya, dan masih banyak lagi kisah serupa tentang romantika suami-istri.

6. Thalhah ibn ‘Ubaidillah

Berikut ini kutipan kisah Thalhah ibn ‘Ubaidillah.

Satu hari ia berbincang dengan ‘Aisyah, isteri sang Nabi, yang masih terhitung sepupunya. Rasulullah datang, dan wajah beliau pias tak suka. Dengan isyarat, beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam meminta ‘Aisyah masuk ke dalam bilik. Wajah Thalhah memerah. Ia undur diri bersama gumam dalam hati, “Beliau melarangku berbincang dengan ‘Aisyah. Tunggu saja, jika beliau telah diwafatkan Allah, takkan kubiarkan orang lain mendahuluiku melamar ‘Aisyah.”

Satu saat dibisikannya maksud itu pada seorang kawan, “Ya, akan kunikahi ‘Aisyah jika Nabi telah wafat.”

Gumam hati dan ucapan Thalhah disambut wahyu. Allah menurunkan firmanNya kepada Sang Nabi dalam ayat kelimapuluhtiga surat Al Ahzab, “Dan apabila kalian meminta suatu hajat kepada isteri Nabi itu, maka mintalah pada mereka dari balik hijab. Demikian itu lebih suci bagi hati kalian dan hati mereka. Kalian tiada boleh menyakiti Rasulullah dan tidak boleh menikahi isteri-isterinya sesudah wafatnya selama-lamanya.”

Ketika ayat itu dibacakan padanya, Thalhah menangis. Ia lalu memerdekakan budaknya, menyumbangkan kesepuluh untanya untuk jalan Allah, dan menunaikan haji dengan berjalan kaki sebagai taubat dari ucapannya. Kelak, tetap dengan penuh cinta dinamainya putri kecil yang disayanginya dengan asma ‘Aisyah. ‘Aisyah binti Thalhah. Wanita jelita yang kelak menjadi permata zamannya dengan kecantikan, kecerdasan, dan kecemerlangannya. Persis seperti ‘Aisyah binti Abi Bakr yang pernah dicintai Thalhah.

Subhanallah.

7. Kisah cinta yang membawa surga
Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata, "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia sangat rajin dan taat. Suatu waktu dia berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'.

Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata cintanya pada si wanita cantik tak bertepuk sebelah tangan.

Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang untuk melamar gadis tersebut. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dojodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku.'

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobaranya.'

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata, "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan pemuda itu seringkali berziarah ke kuburnya, Dia menangis dan mendo'akanya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya, "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Dia menjawab, "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan."

Pemuda itu bertanya, "Jika demikian, kemanakah kau menuju?" Dia jawab, "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

Pemuda itu berkata, "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab, "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah SWT) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si pemuda bertanya, "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

Hmm, sebuah kisah cinta yang agung dengan berdasarkan janji bertemu di surga. Luar biasa. AllahuAkbar. 

8. Ummu Sulaim dan Abu Thalhah

Ummu Sulaim merupakan janda dari Malik bin Nadhir. Abu Thalhah yang memendam rasa cinta dan kagum akhirnya memutuskan untuk menikahi Ummu Sulaim tanpa banyak pertimbangan. Namun di luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan rasa hormat,

"Sesungguhnya saya tidak pantas menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?"

"Engkau menginginkan dinar dan kenikmatan," kata Abu Thalhah.

"Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam," tukas Ummu Sualim tandas.

"Tetapi saya tidak mengerti siapa yang akan menjadi pembimbingku?" tanya Abu Thalhah.

"Tentu saja pembimbingmu adalah Rasululah sendiri," tegas Ummu Sulaim.

Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi menjumpai Rasulullah Saw. yang mana saat itu tengah duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah Saw. berseru, "Abu Thalhah telah datang kepada kalian, dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya."

Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hingga tanpa terasa di hadapan Rasulullah Saw. lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat, "Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusanNya."

Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam. 

9. Kisah seorang pemuda yang menemukan apel

Alkisah ada seorang pemuda yang ingin pergi menuntut ilmu. Di tengah perjalanan dia haus dan singgah sebentar di sungai yang airnya jernih. dia langsung mengambil air dan meminumnya. tak berapa lama kemudian dia melihat ada sebuah apel yang terbawa arus sungai, dia pun mengambilnya dan segera memakannya. setelah dia memakan segigit apel itu dia segera berkata "Astagfirullah"

Dia merasa bersalah karena telah memakan apel milik orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. "Apel ini pasti punya pemiliknya, lancang sekali aku sudah memakannya. Aku harus menemui pemiliknya dan menebus apel ini".

Akhirnya dia menunda perjalanannya menuntut ilmu dan pergi menemui sang pemilik apel dengan menyusuri bantaran sungai untuk sampai kerumah pemilik apel. Tak lama kemudian dia sudah sampai ke rumah pemilik apel. Dia melihat kebun apel yang apelnya tumbuh dengan lebat.

"Assalamualaikum...."

"Waalaikumsalam wr.wb.". Jawab seorang lelaki tua dari dalam rumahnya.

Pemuda itu dipersilahkan duduk dan dia pun langsung mengatakan segala sesuatunya tanpa ada yang ditambahi dan dikurangi. Bahwa dia telah lancang memakan apel yang terbawa arus sungai.

"Berapa harus kutebus harga apel ini agar kau ridha apel ini aku makan pak tua". tanya pemuda itu.

Lalu pak tua itu menjawab. "Tak usah kau bayar apel itu, tapi kau harus bekerja di kebunku selama 3 tahun tanpa dibayar, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, karena untuk segigit apel dia harus membayar dengan bekerja di rumah bapak itu selama tiga tahun dan itupun tanpa digaji, tapi hanya itu satu-satunya pilihan yang harus diambilnya agar bapak itu ridha apelnya ia makan."Baiklah pak, saya mau."

Alhasil pemuda itu bekerja di kebun sang pemilik apel tanpa dibayar. Hari berganti hari, minggu, bulan dan tahun pun berlalu. Tak terasa sudah tiga tahun dia bekerja dikebun itu. Dan hari terakhir dia ingin pamit kepada pemilik kebun.

"Pak tua, sekarang waktuku bekerja di tempatmu sudah berakhir, apakah sekarang kau ridha kalau apelmu sudah aku makan?"

Pak tua itu diam sejenak. "Belum."

Pemuda itu terhenyak. "Kenapa pak tua, bukankah aku sudah bekerja selama tiga tahun di kebunmu."

"Ya, tapi aku tetap tidak ridha jika kau belum melakukan satu permintaanku lagi."

"Apa itu pak tua?"

"Kau harus menikahi putriku, apakah kau mau?"

"Ya, aku mau." jawab pemuda itu.

Bapak tua itu mengatakan lebih lanjut. "Tapi, putriku buta, tuli, bisu dan lumpuh, apakah kau mau?"

Pemuda itu tampak berfikir, bagaimana tidak...dia akan menikahi gadis yang tidak pernah dikenalnya dan gadis itu cacat, dia buta, tuli, dan lumpuh. Bagaimana dia bisa berkomunikasi nantinya? Tapi diap un ingat kembali dengan segigit apel yang telah dimakannya. Dan dia pun menyetujui untuk menikah dengan anak pemilik kebun apel itu untuk mencari ridha atas apel yang sudah dimakannya.

"Baiklah pak, aku mau."

Segera pernikahan pun dilaksanakan. Setelah ijab kabul sang pemuda itupun masuk kamar pengantin. Dia mengucapkan salam dan betapa kagetnya dia ketika dia mendengar salamnya dibalas dari dalam kamarnya. Seketika itupun dia berlari mencari sang bapak pemilik apel yang sudah menjadi mertuanya.

"Ayahanda...siapakah wanita yang ada didalam kamar pengantinku? Kenapa aku tidak menemukan istriku?"

Pak tua itu tersenyum dan menjawab. "Masuklah nak, itu kamarmu dan yang di dalam sana adalah istimu."

Pemuda itu tampak bingung. "Tapi ayahanda, bukankah istriku buta, tuli tapi kenapa dia bisa mendengar salamku?

Bukankah dia bisu tapi kenapa dia bisa menjawab salamku?"

Pak tua itu tersenyum lagi dan menjelaskan. "Ya, memang dia buta, buta dari segala hal yang dilarang Allah. Dia tuli, tuli dari hal-hal yang tidak pantas didengarnya dan dilarang Allah. Dia memang bisu, bisu dari hal yang sifatnya sia-sia dan dilarang Allah, dan dia lumpuh, karena tidak bisa berjalan ke tempat-tempat yang maksiat."
Pemuda itu hanya terdiam dan mengucap lirih: "Subhanallah....."
Dan merekapun hidup berbahagia dengan cinta dari Allah.

10. Zulaikha dan Yusuf As. 
Cinta Zulaikha kepada Yusuf As. konon begitu dalam hingga Zulaikha takut cintanya kepada Yusuf merusak cintanya kepada Allah Swt. Berikut sedikit ulasan tentang cinta mereka

Zulaikha adalah seorang puteri raja sebuah kerajaan di barat (Maghrib) negeri Mesir. Beliau seorang puteri yang cantik menarik. Beliau bermimpi bertemu seorang pemuda yang menarik rupa parasnya dengan peribadi yang amanah dan mulia. Zulaikha pun jatuh hati padanya. Kemudian beliau bermimpi lagi bertemu dengannya tetapi tidak tahu namanya.

Kali berikutnya beliau bermimpi lagi, lelaki tersebut memperkenalkannya sebagai Wazir kerajaan Mesir. Kecintaan dan kasih sayang Zulaikha kepada pemuda tersebut terus berputik menjadi rindu dan rawan sehingga beliau menolak semua pinangan putera raja yang lain. Setelah bapanya mengetahui isihati puterinya, bapanya pun mengatur risikan ke negeri Mesir sehingga mengasilkan majlis pernikahan dengan Wazir negri Mesir.

Memandang Wazir tersebut atau al Aziz bagi kali pertama, hancur luluh dan kecewalah hati Zulaikha. Hatinya hampa dan amat terkejut, bukan wajah tersebut yang beliau temui di dalam mimpi dahulu. Bagaimanapun ada suara ghaib berbisik padanya: “Benar, ini bukan pujaan hati kamu. Tetapi hasrat kamu kepada kekasih kamu yang sebenarnya akan tercapai melaluinya. Janganlah kamu takut kepadanya. Mutiara kehormatan engkau sebagai perawan selamat bersama-sama dengannya.”

Perlu diingat sejarah Mesir menyebut, Wazir diraja Mesir tersebut adalah seorang kasi, yang dikehendaki berkhidmat sepenuh masa kepada baginda raja. Oleh yang demikian Zulaikha terus bertekat untuk terus taat kepada suaminya kerana ia percaya ia selamat bersamnya.

Demikian masa berlalu, sehingga suatu hari al-Aziz membawa pulang Yusuf a.s. yang dibelinya di pasar. Sekali lagi Zulaikha terkejut besar, itulah Yusuf a.s yang dikenalinya didalam mimpi. Tampan, menarik dan menawan.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Hammad dari Tsabit bin Anas memperjelasnya: "Yusuf dan ibunya telah diberi oleh Allah separuh kecantikan dunia."

Kisah Zulaikha dan Yusuf direkam di dalam Al Quran pada Surah Yusuf ayat 21 sampai 36 dan ayat 51. Selepas ayat tersebut Al Quran tidak menceritakan kelanjutan hubungan Zulaikha dengan Yusuf a.s. Namun Ibn Katsir di dalam Tafsir Surah Yusuf memetik bahwa Muhammad bin Ishak berkata bahawa kedudukan yang diberikan kepada Yusuf a.s oleh raja Mesir adalah kedudukan yang dulunya dimiliki oleh suami Zulaikha yang telah dipecat. Juga disebut-sebut bahwa Yusuf telah beristrikan Zulaikha sesudah suaminya meninggal dunia, dan diceritakan bahwa pada suatu ketika berkatalah Yusuf kepada Zulaikha setelah ia menjadi isterinya, “Tidakkah keadaan dan hubungan kita se¬karang ini lebih baik dari apa yang pernah engkau inginkan?”

Zulaikha menjawab, “Janganlah engkau menyalahkan aku, hai kekasihku, aku sebagai wanita yang cantik, muda belia bersuamikan seorang pemuda yang berketerampilan dingin, menemuimu sebagai pemuda yang tampan, gagah perkasa bertubuh indah, apakah salah bila aku jatuh cinta kepadamu dan lupa akan kedudukanku sebagai wanita yang bersuami?”

Dikisahkan bahwa Yusuf menikahi Zulaikha dalam keadaan gadis (perawan) dan dari perkawinan itu memperoleh dua orang putra: Ifraitsim bin Yusuf dan Misya bin Yusuf.

Copyright @ 2013 It's About All.